Peluh haru ibuku



Teruntuk ibuku yang tak pernah lelah melukis senyum terbaiknya setiap saat. Sudah sejak lama aku selalu menginginkan menjadi sosok sepertimu, yang tak pernah berhenti berjalan walau badai tengah menerjang, walau angin pilu yang menyesakkan tak ada yang bisa membuatmu berhenti untuk memperjuangkan hidup keluarga ini.
Aku ingat waktu itu, waktu dimana keluarga kami masih belum stabil seperti sekarang ini, kehidupan kami waktu itu bergantung pada ibu, karena jujur keluarga kami tengah diterpa angin badai, masalah yang tak kunjung henti. Saat itu aku masih duduk dibangku SMP, belum semengerti sekarang ini, tapi inilah perjalanan hidup yang akan aku ingat sampai kapanpun. Saat itu ibuku tengah mengandung adikku, dengan usia kandungan yang masih sedikit, ayahku sakit tak jelas berbulan-bulan. Sedangkan perekonomian keluargaku hanya tertopang pada jualan mie ayam bakso. Sebelum ayahku sakit, beliau masih bisa menafkahi keluarga kami, tidak banyak memang,hanya saja itu cukup untuk kami sekeluarga. Kondisi itu bertambah parah saat kakaku juga tiba-tiba sakit, dan saat itu aku tak bisa membantu ibuku karena aku bersekolah disalah satu pesantren. Dari cerita hidup ibuku itu aku sempat berfikir, mungkin ibuku sengaja membuatku tak banyak berfikir tentang kondisi rumah dan membuatku untuk tidak khawatir, tapi dilain sisi aku berfikir juga kalau tak ada gunanya aku bersekolah jauh sedangkan dirumah kondisinya sangat memprihatinkan. Tapi disinilah titik juang ibuku benar-benar teruji, titik sabar yang semakin hari semakin membesar diuji, dan aku yakin Allah tidak akan pernah meninggalkan ibuku menghadapi semua masalah ini. 
Bayangkan saja setelah subuh ibuku bersiap untuk ke pasar dan membeli kebutuhan warung, setelah pulang dari pasar ibuku memasak untuk ayah dan kakakku, sebelum membuka warung ibuku sudah mengurus ayah dan kakaku terlebih dahulu, dan pukul 10.00 ibuku bersiap untuk membuka warung. Tidak hanya itu, diwarung ibukku sendirian berjualan dan tanpa ada yang membantunya berjualan. Tapi ibuku tak pernah sedikit pun mengeluh, aku mengerti lelah yang ia rasakan saat itu. Beberapa minggu setelah itu ibuku menyempatkan diri untuk menjengukku dipesantren, dan ia masih dengan setiap memberikan senyum terbaiknnya untukku. Aku mengerti betul perjuangan yang tengah ibuku emban selama itu, aku mengerti betul keringat tercucur deras saat itu, aku mengerti betul nafas tersengal-sengal ibuku saat itu.
Oh Allah wanita ini sungguh tahan banting, sungguh tangguh sekali kekuatannya, sungguh besar sekali kesabarannya, dan sungguh cantik sekali ketika ia tersenyum, bahkan dengan banyaknya masalah yang tengah ia hadapi. Aku sempat menerka-nerka dari mana asal rasa tangguhnya itu menghadapi semuanya, ia tahu betul bahwa Allah selalu bersamanya, selalu menjaganya dan tak pernah membuatnya sendiri, ada banyak pihak yang ikut andil membantu ibuku, Allah tahu apa yang ibuku butuhkan dan semua ibu kehendak-Nya.
Disinilah aku belajar, bahwa semakin banyak usaha kita untuk hidup semakin banyak pula Allah akan berkendak untuk hidup kita, tapi jangan pernah lupa kalau apapun usaha yang kita lakukan biarkan Allah yang turun tangan, biarkan Allah yang menggariskan, dan teruslah percaya bahwa Allah akan selalu mencintai hamba-Nya selama hamba-Nya mau mencintainya dengan usaha dan doa. Aku belajar dari ibuku, bahwa semua yang kita jalani tak pernah jauh dari apa yang sebenarnya sudah Allah kehendaki. Dalam hidup kita hanya belajar satu hal, untuk terus berjuang dan bertawakal, karena apapun usaha yang kita lakukan biarkan Allah yang berkehendak. Selama ini usahaku untuk belajar tak akan pernah mendapat ridho dari Allah, jika aku tak terus berdoa kepada-Nya. Bu, terima kasih untuk pelajaran hidup yang belum tentu aku dapatkan di sekolah, dan terima kasih sudah membuatku sadar akan arti berjuang. Karena selama Allah bersama kita, kita tidak akan merasa kalau masalah itu musuh, tapi justru pelajaran supaya kita terus meningkatkan iman kita kepada-Nya. Bu, aku sangat bersyukur karena Allah masih memperkenankan ibu membimbingku belajar arti hidup.


 

Karya asli
NIK                   : 3374126304960002
Nama                 : Kholifah Indriyani
TTL                    : Semarang, 23 April 1996
Jenis kelamin      : Perempuan
Alamat               : Desa Wonosari RT 02/02
Kelurahan Plalangan     Kecamatan
Gunungpati Semarang
Agama                    : Islam
Status                      : Belum kawin
Pekerjaan                 : Mahasiswa
Kewarganegaraan     : WNI
FB/Twitter/Instagram: Khalifah Indriyani / ndriyanifah / khaiffah
No.Telp : 085602425620

Link url blogspot : ifaifuh.blogspot.com   Link url wordpress : kholifah9.wordpress.com
 #saliha #karenaibu #kompetisiblogsaliha




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mem-bodoh-kan keinginan

KEPALA DUAKU

PERPIJAR