Yang tak pernah punya lahan untuk berkeluh kesah.
Malam itu senandung putaran kipas angin menemani
kesendiriannya mengerjakan tugas kampus. Saat ia asyik dengan pekerjaannya, ia
juga asyik bergelut pendapat dengan kekasihnya. Terus beradu hingga akhirnya
simpulan yang ia dapatkan adalah kekasihnya yang bergantian marah padanya.
Dengan sekuat tenaga ia meminta maaf atas kesalahan kata dan perkataannya, tapi
hanya ada balasan “iya” yang terus menggantung dikepalanya, fikirannya memusat
pada rasa sabarnya yang bertubi-tubi menghempas pernapasan seraknya. Ya ia
sedang tak enak tenggorokan, rasanya serak dan gatal seperti ada pencubit liar
yang menggerogoti kerongkongan kecilnya, dan seperti biasanya ia hanya mampu
menangis dalam dekapan selimut kecil berlambang love miliknya. Ia bukan orang
yang merintih dan cengeng dengan suasana, hanya saja ia tak pernah punya lahan
untuk bercerita saat beradu pendapat dengan kekasihnya. Ia bungkam, ingin
sendiri dan merasakan kesalahannya yang selalu berakhir dengan sikap dingin
kekasihnya. Ia hanya menghela nafas kemudian membiarkan kekasihnya untuk tidur,
dalam hatinya menjerit “tidakkah kau tau aku membutuhkanmu? Membuatmu meredam
amarah memang belum sepenuhnya aku hadirkan, tapi tidak kamu tau? Aku ingin
marah dan kau mendekapku pelan, bukan dengan sikap “mbuhlah”mu. “ dan kemudian
tersenyum. Dalam setiap tangisan yang ia hadirkan hanya satu ucapannya yang
membuat ia tegar dan penuh percaya diri “sabarlah, cinta itu menguatkan” seribu
mungkin kata-kata itu terlintas dibibirnya. Bertahan dengan semua ini memang
sudah menjadi kegigihannya saat pertama kali kekasihnya mencintainya dan bicara
jujur padanya. Dan saat itulah yang terlitas dalam fikirannya hanyalah “jangan
pernah sia-siakan dia yang mengasihimu lebih dari orang lain, jadi
pertahankanlah” kalimat indah itu berakhir pada kejadian yang membuatnya
semakin tidak mampu pergi dari kekasihnya dan dalam lubuk hati paling dalamnya
ia berkata “setialah!!!”. Ia memang tidak pernah mencintai siapapun kecuali
hanya kekasihnya setelah itu, ia korbankan apapun demi kekasihnya bahkan semua
yang ia miliki. Ia berikan semuanya hanya untuk membuat kekasihnya percaya
bahwa cinta yang tumbuh dengan puluhan ribu bisikan ini mampu untuk mencintai satu
orang, dan itu kekasihnya. Memang, memilih untuk memiliki hati seseorang penuh
dengan resiko, kesabaran, kesadaran, keteduhan, ketegaran, keteguhan, kebaikan,
kelemahan, kesetiaan, dan ke- semua itu harus dipunya, bukan hanya dipunya tapi
harus direalisasikan dengan baik. Kewajiban yang terpenting disini adalah
meminta maaflah jika salah dan jangan menunggu. Ia menghela nafas dan rebahan
dikasurnya, merasakan aroma indah yang menyejukan, aku tau sayang marahmu bukan
sebenarnya inginmu J

Komentar
Posting Komentar